Friday, 25 July 2014

Bahan Peledak

klasifikasi bahan peledak Bahan Peledak

Pengertian Bahan Peledak
Yang dimaksud dengan bahan peledak adalah :
Zat yang berbentuk padat, cair, gas ataupun campurannya yang apabila terkena suatu aksi, berupa panas, benturan, tekanan, hentakan atau gesekan akan berupa secara fisik maupun kimiawi menjadi zat lain yang lebih stabil. Perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang singkat disertai dengan tekanan yang sangat tinggi. Pada bahan peledak industri perubahan secara kimiawi sebagian besar (hampir seluruhnya) berbentuk gas.

Klasifikasi Bahan Peledak

Berdasarkan kelasnya bahan peledak dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan Pemakaiannya
Bahan peledak militer, umumnya dipakai dalam operasi militer misal untuk peperangan, demolation, melukai, membunuh, (bom napalm, granat dsb.)
Bahan peledak sipil/komersial yaitu bahan peledak dalam pemakaian industri pertambangan, konstruksi dll.

2. Berdasarkan Kecepatan rambatnya
High Explosive (high action explosive) à Detonation
Low Explosive (slow action explosive) à Deflagration
High explosive mempunyai karakteristik dengan :
- Kecepatan peledakan (vod) yang tinggi > 4000 m/s
- Tekanan impact tinggi, density tinggi dan sensitive thd cap
- High compressibility sampai dengan 100 kbar.
Low Explosive atau Blasting agent, umumnya berupa campuran antara “fuel” dengan oxidizer system, dimana tak satupun dapat diklasifikasikan sebagai bahan peledak, ciri khasnya yaitu:
- Perubahan kimia dibawah kecepatan suara (<4000m/s)
- Low compressibility

3. Berdasarkan Komposisinya
a. Bahan peledak senyawa tunggal, yaitu bahan peledak yang terdiri dari satu senyawa misal, PETN (Penta Erythritol Tetra Nitrat), TNT (Tri Nitro Toluena).
b. Bahan peledak Campuran, yaitu bahan peledak yang ter diri dari berbagai senyawa tunggal seperti: Dynamit (Booster) Black powder, ANFO (Ammonium Nitrate Fuel Oil).

4. Berdasarkan Kepekaannya
Dibagi menjadi dua macam yaitu:
-Initiating explosive, yaitu bahan peledak yang mudah meledak karena adanya api, panas benturan , gesekan dsb à misal: bahan2 isian detonator (PbN6, Hg(ONC)2
-Non Initiating explosive, yaitu bahan peledak yang sukar meledak yang akan meledak setelah terjadi peledakan sebelumnya à misal: ANFO, Dynamit dsb.

black powder Bahan Peledak

Karakteristik Bahan Peledak
Perbedaan kondisi kerja dibutuhkan juga pembuatan bahan peledak dengan sifat-sifat yang berbeda pula, untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Pada kondisi ideal yaitu lubang tembak kering (tak ada air) bahan peledak sederhana dapat digunakan, tetapi untuk kondisi lubang tembak berair bahan peledak yang lebih canggih perlu digunakan.

Dalam proses pemilihan bahan peledak yang paling utama adalah karakteristik bahan peledak, dibagi dua macam yaitu :

1. Environment Characteristic
a. Sensitiveness
Adalah karakteristik yang ditunjukkan kemampuan bahan peledak dalam menebarkan gelombang peledakan secara stabil sepanjang isian bahan peledak.
b. Water Resistance (Ketahanan Terhadap Air)
Adalah kemampuan bahan peledak untuk menahan rembesan/daya larut dalam air sehingga bahan peledak tersebut masih dapat meledak.
Ketahanan air suatu bahan peledak dinyatakan dalam selang waktu, dan tergantung dari cara pengepakannya (packing)
Explosive yang dilapisi plastic umumnya mempunyai ketahanan tehadap air yang tinggi. Bahan peledak yang tidak tahan terhadap air apabila digunakan biasanya memakai “plastic bag” (condom) supaya tetap peka apabila dipakai
c. Fumes
Adalah sifat bahan peledak yang menggambarkan “racun” yang akan ter bentuk sesudah peledakan.
Saat ini dalam pemilihan bahan peledak diperlukan pertimbangan yang bertujuan meminimalkan adanya racun, fumes (gas buang/asap) dan beberapa efek negative yang berpengaruh terhadap lingkungan.
Pada tambang terbuka pengaruhnya tidak begitu terasa tapi untuk tambang bawah tanah sangat perlu untuk pemilihan masalah ini.
Dalam penerapan peledakan lubang bawah tanah, kelebihan oxygen akan menyebabkan pembentukan gas nitro oxides (NO dan NO2) dan kekurangan oxygen akan terjadi carbon monoxide (CO), yang sangat berbahaya pada manusia atau makluk hidup.
d. Flammability
Kemudahan bahan peledak terhadap initiation dari bunga api atau nyala api, beberapa kandungan bahan peledak dapat diledakan dengan api.
“Flammability ” merupakan pertimbangan yang sangat penting untuk penyimpanan, transportasi, dan pemakaiannya
e. Resistance to Freezing
Pada negara-negara yang terjadi musim dingin dengan temperatur dibawah 0°, dibutuhkan bahan peledak yang tahan beku Dynamite dan Watergel berubah menjadi lebih keras pada temperatur rendah dan akan merugikan dalam pengisian lubang tembak

2. Performance Characteristic
a. Sensitivity
Adalah ukuran kepekaan/kemudahan reaksi dari suatu bahan peledak terhadap kebutuhan minimum energi (minimum kebutuhan primer) sehingga meledak, ada beberapa macam kepekaan yaitu:
• sensitivity to shock (impact), yaitu kepekaan bahan peledak terhadap benturan.
• sensitivity to friction, yaitu kepekaan bahan peledak terhadap gesekan.
• sensitivity to heat, yaitu kepekaan bahan peledak terhadap panas atau suhu udara.
• sensitivity to initiation, yaitu kepekaan bahan peledak terhadap ledakan pendahuluan (initiator/penyalaan)
• sensitivity to cap , yaitu kepekaan bahan peledak terhadap adanya gelombang ledakan dari bahan peledak lain yang letaknya berjauhan.
b. Velocity of Detonation
Adalah kecepatan perambatan bahan peledak melalui suatu media.
Kecepatan bahan peledak akan lebih besar apabila melalui media yang semakin rapat (confined), dengan kecepatan detonasi yang tinggi akan diperoleh juga tenaga impact dimana dibutuhkan untuk pemecahan batuan. Kecepatan perambatan peledakan dapat diukur dengan alat “micrometer”.
c. Strength
Adalah kekuatan (energi) yang ditunjukkan dari bahan peledak biasanya dalam satuan %, artinya strength dari bahan peledak adalah satuan yang menunjukkan kandungan (%) dari “blasting gelatine”.
Diambil standard satuan adalah “blasting gelatine” karena dikenal sebagai bahan peledak campuran yang utama untuk keperluan sipil. Ada juga sebagai pembanding adalah pemakaian NG (Nitroglycerin) dalam total berat dari bahan peledak
Secara theoretical dapat dikatakan bahwa “strength” adalah energy yang terdapat dalam bahan peledak.
d. Detonation Stability
Artinya kemampuan kestabilan bahan peledak untuk meneruskan energi kedalam seluruh lajur (column) bahan peledak.
e. Density
Dari suatu bahan peledak berat persatuan volume dinyatakan dalam (kg/l) atau yang menentukan isian berat bahan peledak per unit panjang isian (gr/cc).
f. Permissibility.
Sifat bahan peledak yang menggambarkan dapat tidaknya bahan peledak ter sebut dipakai pada kondisi2 tertentu.

foto peledakan di pertambangan Bahan Peledak

Bahan peledak yang dimaksudkan disini adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil. Panas dari gas yang dihasilkan reaksi peledakan tersebut sekitar 4000 derajat C. Adapun tekanannya, menurut Langerfors dan Kihlstrom (1978), bisa mencapai lebih dari 100.000 atm setara dengan 101.500 kg/cm² atau 9.850 MPa (~10.000 MPa). Sedangkan energi per satuan waktu yang ditimbulkan sekitar 25.000 MW atau 5.950.000 kcal/s.

Fumes merupakan salah satu karakteristik dari sifat fisik bahan peledak yang perlu diketahui. Detonasi bahan peledak akan menghasilkan fumes, yaitu gas-gas, baik yang tidak beracun (H20, CO2, N2) maupun yang mengandung racun (NO, NO2, CO).

Memang harapan kita dari detonasi suatu bahan peledak komersial tidak menghasilkan gas-gas beracun, namun kenyataan di lapangan hal tersebut sulit dihindari akibat beberapa faktor berikut:
- Pencampuran ramuan bahan peledak yang meliputi unsur oksida dan bahan bakar (fuel) tidak seimbang, sehingga tidak mencapai zero oxygen balance,
- Letak primer yang tidak tepat,
- KUrang tertutup karena pemasangan stemming kurang padat dan kuat,
- Adanya air dalam lubang ledak,
- Sistem waktu tunda (delay time system) tidak tepat,
- Kemungkinan adanya reaksi antara bahan peledak dengan batuan (sulfida atau karbonat)

Fumes hasil peledakan memperlihatkan warna yang berbeda yang dapat dilihat sesaat setelah peledakan terjadi. Gas berwarna coklat-orange : fume dari gas NO hasil reaksi bahan peledak basah karena lubang ledak berair. Gas berwarna putih diduga kabut dari uap air yang menandakan terlalu banyak air di dalam lubang ledak, karena panas yang luar biasa merubah seketika fase cair menjadi kabut. Gas berwarna kehitaman kemungkinan hasil dari pembakaran yang tidak sempurna. (dari Modul Juru Ledak Penambangan bahan galian)

Tag: pengertian bahan peledak | senyawa bahan peledak | Bahan peledak | definisi bahan peledak | karakteristik bahan peledak |

Related Posts to "Bahan Peledak"

Response on "Bahan Peledak"